Selasa, 31 Maret 2020, WIB

Kamis, 27 Feb 2020, 14:58:45 WIB, 23 View Wandoyo Wira Atmaja, Kategori : KEGIATAN BIDANG P3PL

Kesehatan jiwa masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan yang signifikan di dunia, termasuk di Indonesia. Menurut data WHO (2016), terdapat sekitar 35 juta orang terkena depresi, 60 juta orang terkena bipolar, 21 juta terkena skizofrenia, serta 47,5 juta terkena dimensia. Di Indonesia, dengan berbagai faktor biologis, psikologis dan sosial dengan keanekaragaman penduduk; maka jumlah kasus gangguan jiwa terus bertambah yang berdampak pada penambahan beban negara dan penurunan produktivitas manusia untuk jangka panjang.

Berdasarkan fakta fakta permasalahan kesehatan jiwa tersebut, World Health Organization (WHO) dan World Federation for Mental Health (WFMH) berupaya menekankan penyelesaian permasalahan kesehatan jiwa dari akarnya, setiap orang memiliki hak untuk dihargai dan mendapatkan perlakuan layak sesuai dengan harkat dan martabat sebagai manusia. Adapun bentuk nyata perwujudan terhadap hak tersebut tercermin dari sejak kecil berupa dukungan psikologis yang diberikan keluarga kepada setiap anggota keluarganya. Lebih jauh lagi, pesan ini juga berarti bahwa penghargaan terhadap hak-hak manusia juga secara perlahan harus mampu menghapus diskriminasi dan stigma terhadap anggota keluarga atau siapapun yang memiliki gangguan jiwa; sehingga mereka dapat tetap dapat dihargai selayaknya manusia bermartabat yang perlu dibantu untuk mendapatkan kembali kehidupan yang berkualitas.

Selama tahun 2019, Dinas Kesehatan Kota Tegal telah menangani sebanyak 602 dengan kategori Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) sesuai target dari Kemenkes RI untuk mengurangi jumlah penderita ODGJ yang ditelantarkan, dengan menggerakan tim dari Puskesmas dalam memberikan pelayanan kesehatan jiwa.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tegal dr. Sri Primawati Indraswari, Sp.KK.MM.MH menjelaskan bahwa kategori ODGJ terbagi menjadi tiga yaitu ringan, sedang dan berat dengan menggunakan 3 metode penanganan yaitu : peningkatan sistem surveilans epidemiologi, peningkatan jejaring layanan dan penggerakkan peran serta  masyarakat khususnya kader ODGJ sehingga ada pemetaan jumlah ODGJ, dengan dibentuknya Tim Koordinasi Kesehatan Jiwa Masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi SDM petugas kesehatan jiwa dan pembentukan kader peduli kesehatan jiwa.

“Berdasarkan hasil pemetaan by name by address, semua data ODGJ sudah tertangani dengan baik oleh tim medis di masing-masing Puskesmas,” jelasnya. Hasil Pemetaan jumlah ODGJ tersebut juga merupakan realisasi penjaringan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK).

Terkait upaya penanganan ODGJ, lanjut dr. Prima, Dinkes Kota Tegal menerjunkan tim medis Puskesmas dan kader kesehatan. Tujuannya untuk melakukan pemeriksaan kondisi kesehatan penderita ODGJ secara rutin dan intensif setiap bulan. Termasuk pengawasan dan pemantauan konsumsi obat secara  teratur sebagai upaya penyembuhan.

Termasuk kasus ibu Warkoyah yang sempat viral, Dinas Kesehatan Kota Tegal telah berkoordinasi dengan Puskesmas Kaligangsa untuk menangani ibu Warkoyah yang sempat dipasung dan kini sudah dibebaskan dan ditangani oleh petugas dari Puskesmas Kaligangsa.

Lebih lanjut dr. Prima menjelaskan, mengacu hasil pendataan ODGJ tersebut didominasi usia produktif dengan sejumlah faktor penyebab, yakni psikologi atau psycotic dan faktor psiko sosial yang berpotensi terjadi karena pengaruh lingkungan.

Ditambahkan oleh Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Yuli Prasetya, SKM.Mkes bahwa terkait upaya penanganan ODGJ terus digencarkan Dinkes Kota Tegal dalam pengendalian kesehatan jiwa masyarakat. Diantaranya melalui peningkatan kapasitas pelayanan puskesmas sebagai fasyankes terdepan, sosialisasi kesehatan jiwa masyarakat bagi kader, optimalisasi edukasi dan pemahaman tentang kesehatan jiwa bagi anak sekolah. Selain itu, pembentukan kader ksehatan jiwa masyarakat, peningkatan surveilans jiwa bagi petugas. Tak kalah penting juga adalah edukasi kesehatan jiwa bagi keluarga penderita untuk memotivasi keluarga sekaligus berobat secara teratur dan merubah stigma negatif.



Kamis, 27 Feb 2020 PENANGANAN ODGJ DI KOTA TEGAL


Tuliskan Komentar